Rabu, 30 November 2011

MAAFIN AKU JHO

Hari ini ujian perdana kenaikan kelas disekolah favorit SMA 1 Manado tempat Salsa olivia putri, mata pelajaran yang diujiankan cukup mengasyikkan, walaupun hari-hari berikutnya adalah hari yang akan membosankan untuk cewek kelahiran Manado ini. Karena pelajaran yang rumit semua, tetapi cukup cakap mental Salsa untuk menghadapinya. Sedikit menguji mental dan otaknya, karena selama ini salsa tidak begitu serius untuk menikmati pelajaran-pelajaran yang ada disekolah.
Akhir-akhir ini salsa sedikit berubah, kebiasaannya yang suka mengkhayal dikelas dan kebiasaan jelek yang baru-baru muncul dalam diri salsa, dia suka tidur dikelas, sudah berpuluh-puluh kali ditegur kepala sekolah. Tetapi sosok seorang Salsa tidak bisa dianggap begitu jelek karena  pada aslinya salsa adalah bintang sekolahan, cerdas dan energic, hanya belakangan ini salsa terlihat berubah tidak seperti biasanya.
Secara, survey dilapangan belum ditemukan penyebab utama dari gejala-gejala perubahan Salsa. Ahli psikologis berpendapat jangan-jangan nilai Salsa down gara-gara Salsa putus dan patah hati…???
“ What???”
“ Timpal Rere kaget dengan mulut besarnya.”
“ Karena pacaran dan soal patah hati…? Nggak, nggak mungkin sela Miranda dengan cepatnya. Setahu gue, Salsa dari SMP udah doyan tuch pacaran dan dia senangnya gonta ganti cowok,  dan mana mungkin  dia patah hati, bukannya dia yang sering….
“ Mmmh….!!”
“ Benar Mir, you excelent today. Celetuk Sandra dengan bijaksana gaya pak Smit guru bahasa inggris mereka. Memang menurut gue tuh anak smart dan menarik, baik dan pantaslah diidolain banyak cowok, nggak kayak kita yang gila-gila ini. Salsa juga sering mutusin pacarnya kalau dia sudah bosan. Dan waktu Salsa sama Ben aja nilai dia oke-oke aja, nggak ada masalah.
 “ Terus….? Kalau nggak persoalan itu apa coba yang membuat Salsa berubah?? Potong Celse.
“ Tauk!! Kata Rere dan Sandra bersamaan.”
“ Tetapi gue lihat Salsa banyak murungnya sekarang, ngomong sama kita aja jarang banget, akhir-akhir ini dia lebih suka tenggelam dengan novel-novel favoritnya. Suka menyendiri.”
“ Ups…jangan-jangan lagi ada masalah dengan Roy, mereka kan sering bertengkar, apalagi si Roy yang dingin dan super cuek itu.”
“ Roy…??”
“ Iya Roy!”
“ Sok tahu loe nenek lampir…celetuk Miranda dan mencibir kearah Rere. “
“ Tunggu, menurut gue kata-kata Sandra ada benernya juga, mungkin aja Salsa sama Roy ada masalah dan mungkin juga Roy udah bikin Salsa marah dan kesel. Atau Salsa lagi kesel sama Roy karena apa yang diingini Salsa nggak dapat, kan Roy anak nya perhitungan dan…”
“ Hus! Ngomong ditahan jeng, kalau kedengaran Roy, mampus loe!”
“ Alah, biarin kenyataan kok, Rere membelah diri.”
Bel pulang berbunyi anak-anak lain pun berhamburan keluar kelas, Best Friend pun menghenti kan pembicaraan mereka masing-masing dan pulang.
***
Dikamar yang cukup luas, hiasan dinding yang menarik mata untuk memandang, gadis Manado yang mempunyai mata keturunan ayah nya, sipit dan berkulit putih milik ibundanya. Salsa menerawang kelangit-langit kamarnya. Sesekali berdehem dan memejamkan matanya. Tiba-tiba bayangan yang baru dia kenal menggelitik mata dan imajinasinya. Sosok pria yang berkulit putih, tinggi, mempunyai hidung seperti keturunan india, dewasa dan jauh berbeda dengan sosok Roy yang cuek dan egois, yang selama ini bersamanya. Sosok itu bernama Jho.
Jho mengantar Salsa pulang, setelah mereka makan siang dikafe” Casfell Beauty” Jho mentraktir Salsa sebagai tanda perkenalan mereka. Jho memesan dua piring nasi goreng ayam bakar dan dua just wortel, Salsa terkejut menu yang dipesan Jho. Gue tahu kok, pasti suka kan? Senyum Jho, Salsa membalas senyum Jho dan memegang handpone nya dengan erat, Salsa merasakan aliran listrik yang  mengaliri urat-uratnya. Berusaha Salsa bersikap biasa, supaya Jho tidak mengetahuinya, dan kembali membaca pikirannya. Kalau kamu mau tahu dimana aku tahu, nggak usah kamu Tanya, aku akan bilang kalau aku tahu dari mata indahmu. Goda Jho membuat Salsa kembali risih dan salah tingkah. Jho kembali tersenyum manis, dan itulah yang membuat Salsa gelisah malam ini. Apalagi ketika tangan Jho menyentuh bibirnya, ketika Jho menghapus sisa makanan yang tertinggal ditepi bibirnya.
“ akh…! Kenapa sech loe hantui gue??”
Kenapa loe nggak mau hilang dari pikiran gue?? Rintih Salsa.
“ Ayo Salsa, loe jangan mikirin dia mulu, loe tuch baru kenal sama dia. Loe nggak boleh,nggak boleh Sal…!!!”
Kring…kring… handpone genggamnya bordering lantang, membuyarkan semua yang di khayalnya. Diraihnya handpone dari meja belajarnya.
“ Jho??”
“ Hello manis, udah mau bobok yach?” terdengar suara Jho yang ringan dari sebrang sana.
“ Ee..e..e…iiya, sahut, Salsa terbata-bata”
“ Oke, met bobok yach, mimpiin aku. Dan suara Jho pun berakhir, Salsa pun merasa lesu.
“ Kenapa sech…??” sahut Salsa.
“ Jho diantara aku dan Roy.” Raut wajah Salsa yang terlihat tidak menginginkan semuanya terjadi. Gue nggak mungkin menghancurkan semuanya , gue nggak mungkin boleh khianati cinta gue sendiri. Gue nggak boleh jatuh cinta lagi…nggak!!” teriak Salsa.
***
Disekolah,  pagi yang  cerah, anak-anak sudah  berdatangan bermacam ragam raut muka.
“ Sal, loe…putus yach sama …e…sama Roy? Gue turut bersedih yach Sal.”
“ Hey…belalak  Miranda kearah Celse, sudah lah Sal lupain aja kata-kata nenek lampir sembarangan ngerocos aja. Ngomong nggak pake mikir.
“ Maaf…timpal Celse…memelas.”
“ Sal, loe baik-baik aja kan? “ apa loe sakit?? Miranda mendekati sahabatnya.
“ Morning…gusy’s…Rere berlari kearah Miranda, Celse, Sandra dan Salsa,sorry gue telat, soalnya si Rocky telat jemput gue dari biasanya, kata dia tadi…”
“ Tadi apa?? “Belalak Miranda kearah Rere. Maaf gue nggak tahu kalau disini ada Salsa, sorry yach…!
“ Yach udah, kita masuk sekarang yuk, ajak Sandra keteman-temanya. Ayo sahut Miranda dan Celse…barengan.”
Eee… loe mau kemana jeng? Rambut Rere ditarik Celse. Karna melihat tingkah laku Rere yang mau melarikan diri dari mereka. Eee… gue mau ketemu sama kapten basket kita dulu, kapten kita yang baru, memengnya gue belom bilang yach sama loe semua?? Gue cabut yach…
Eee…ntar gue kaduin loe sama Rocky, tetapi Rere keburu jauh dan tidak mendengarkan ancaman Celse.
Merekapun melangkah menuju kelas. Miranda melihat kearah Salsa dengan wajah yang tertekuk, dan tidak secerah biasanya, akhir-akhir ini Salsa terlihat murung dan tidak bersemangat. Ntah apa yang membuat sahabatnya seperti itu.
“ Sal…!”
Loe kenapa Tanya Miranda hati-hati, takut nanti dia salah bertanya. Setelah Miranda yakin suasana yang cocok untuk mendekati sahabatnya.
Ntahlah Mir, gue juga bingung, kenapa  akhir-akhir ini. Gue minta maaf juga karena gue udah cuekin kalian semua. Gue bingung aja dengan perasaan gue. Loe tahu Jho kan?? Jho yang pernah gue certain tempo lalu, semenjak pertemuan kami , dia malah usik pikiran gue terus, dia selalu ada dalam bayangan dan diantara gue sama Roy. Jho berusaha deketin gue, Jho sempat nembak gue, dan bilang sayang sama gue. Dan dia nggak pernah ingin tahu kalau gue udah milik Roy, Jho sering dating kerumah, ajak gue jalan dan kencan. Gue nggak bisa nolak, gue merasa bersalah banget sama Roy, gue takut dan bingung Mir.
Sal…apa Roy tahu semua ini?
Nggak Mir, Roy nggak tahu, Roy sekarang sibuk dengan kegiatannya sendiri, Roy juga jarang hubungi gue, karena disisi lain gue merasa nyaman dan senang bersama Jho, tetapi gue nggak bisa bohongi perasaan gue sama Roy.
Memangnya loe udah balas kata-kata Jho? Nggak Mir gue nggak kasih jawaban apa-apa sama Jho. Gue Cuma diam setiap dia bertanya, dan dia selalu bilang, kalau dia percaya dengan jawaban gue. Gue bingung mau ngapain lagi, andai Jho pergi nggak ada yang sebaik dia. Tetapi kalau Jho ada gue mersa sakit untuk Roy.
“ Sal loe nggak usah bingung, gue Cuma khawatir sama loe, tanpa sadar loe udah sakitin diri loe sendiri. Loe tahu prestasi loe selama ini loe sia-siakan. Loe nggak seperti gue dan lain kenal. Loe jauh berubah, Salsa yang gue kenal, riang dan nggak kusam kayak gini. Sal, loe teman gue dan yang lainnya, kita bisa atasi bareng-bareng, gue dan yang lain nggak pengen liat loe begini lagi, loe harus kayak dulu lagi.
“ thanks yach guy’s, maafin gue. Loe semua emang best friend gue. Salsa memeluk sahabatnya.
Dan merekpun kembai bersama-sama lagi. Menikmati celotehan guru favorit mereka yang mengajar didepan kelas. Miranda melirik sahabat yang disebelahnya. Dan  menebar senyum kesudut penjuru kelas, senyum kebahagiaan untuk sahabatnya.
***
“ Hey Sal…aku anterin pulang yach…” senyum manis Jho mengembang dibibirnya dan menambah aura indah yang dimiliki Jho. Bagi Salsa dia nggak boleh terjebak lagi.
“ Hey Jho… mmmh, maaf gue nggak bisa, soalnya hari ini gue udah janjian sama teman-teman.
Tetapi Sal…aku kan udah nungguin kamu disini dua jam, dan aku udah bela-belain juga ninggalin kerjaan Cuma untuk jemput kamu Sal…!
Jho keluar dari mobil, mendekati Salsa, memegang bahu Salsa menatap lekat mata Salsa.
“ Sal…! aku…
“ nggak Jho  kamu nggak bisa maksain aku, maafin aku Jho…”
Tetapi Sal??
“ Jho, aku bukan yang terbaik untuk kamu, aku udah jahat sama kamu, aku udah mainin perasaan kamu, aku udah sakiti dan gantungin perasaan kamu. Salsa menahan perasaan sakit yang merebak dihatinya, berat didalam hatinya untuk menutupi semuanya. Jho aku nggak bisa terima kamu, aku nggak bisa Jho, kamu bisa lupain aku mulai sekarang. Dan terima kasih hadiah dari mu, tetapi aku nggak bisa terima, Salsa melepaskan cicin yang ada dijari manisnya, dan memberikanya kembali kepada Jho. Salsa pun berlalu meninggalkan Jho, meninggalkan perasaan luka untuk Jho.”
“ Sal, aku tulus sayang sama kamu teriak Jho, namun Salsa tidak menoleh lagi. Sal, aku tahu kalau kamu juga sayang sama aku…Salsa menghentikan langkahnya. Membalikkan badan , Salsa memejam kan matanya luka yang dibawanya terasa menggerogoti hatinya, sebuah rasa yang disimpan untuk Jho yang tidak bisa dia berikan. Dia tidak bisa menkhianati sebuah rasa yang dia miliki untuk seseorang yang disayangnya. Salsa meneruskan langkahnya dengan sayap yang patah untuk Jho. Maafin aku Jho…”
    

KEINDAHAN DAN PANORAMA MERAPI


Hamparan sawah yang menguning, ladang yang menghijau terlihat indah di mata gadis berdarah melayu itu. Dengan wajah yang tenang dan damai terukir senyum manis dibibirnya. Kedamaian dan kesejahteraan dirasakan dalam alunan angin yang menerpa wajah dan mengibarkan jilbab yang menutupi rambutnya. Sekarang sawah dan ladang didepan matanya, seketika berubah menjadi hutan bambu dan jalan setapak menanjak dan sekarang diinjaknya.
          “ Hati-hati Ran, terdengar suara Raja yang menyeru didepannya, saat Raja melihat kaki Ranie hampir tersangkut diurat pepohonan”.       
          “ Oia…Thank’s Ja, balas Ranie ”. Dan mereka pun kembali menyusuri jalan dan menikmati kesejukan yang mereka rasakan.
          “ Hay saudara….” Terdegar sorakan dari bawah dan seketika terlihat tiga sosok pendaki mendekati arah Ranie dan Raja. Rupa nya sosok itu adalah milik Ima, Yusuf dan Amin. Dengan nafas yang ngos-ngosan mereka langsung menyandarkan badan pada pohon besar. Ranie tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
          “ Oke, kita istirahat sejenak, sambil menunggu rombongan yang lain, toh badan udah terasa panas nech, kalau udah dingin kita jalan lagi, ucap Ranie sambil menyeka keringat yang jatuh dari kepala dan membetulkan jilbabnya yang berantakan. Nech, minum dulu. Mereka pun bergantian meneguk air mineral yang disuguhkan oleh gadis bermata sipit itu. Kehangatan persaudaraan dirasakan disetiap singgahan yang dilalui.
          “ Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita, biar nanti cepat sampai dicadas kita langsung dirikan tenda dan bisa masak terus istirahat, rombongan yang lain kita tunggu diatas ajah, gimana???” Tanya Raja setelah melihat wajah teman-temannya yang sudah sedikit tenang dan melepas dahaga.
          “ Ayo timpal Ima yang sudah bersemangat lagi, semangat saudara…!!”
          “ Mmhhh….yela, balas Ranie memotong” yok!!!
          Mereka kembali melangkahkan kaki mengintari semak belukar, hutan, dan jurang yang ada disisi kanan dan kiri mereka.Sesekali memetik buah Arbei yang ditemui dijalan.
          “ Pak…Buk…” sapaan dari beberapa pendaki yang ditemui dijalan yang akan turun. Dan pastinya mereka sudah bermalam diatas sana dan sudah menikmati suasana dipuncak. Dan bermain diladang Edelweis, karena terlihat ditangan salah seorang pendaki yang ingin turun tergenggam beberapa tangkai bunga indah itu.
          “ Turun pak???” Tanya Raja sebagai leader dan tersenyum kearah beberapa orang pendaki tersebut.
          “ Iyach “, salah seorang menjawab. Dan membalas senyum Raja. Mereka sejenak saling bersalaman. Dan kembali meneruskan perjalanan.
          Wah. . . nggak nyangka aku bisa balik kesini, tiba-tiba suara Ima memecahkan kesunyian. Menyenangkan sekali liburan kali ini bisa menikmati keindahan alam dipuncak merapi balas Ranie yang berjalan dibelakang Raja. Dan tersenyum kearah Ima yang begitu menikmati perjalanan itu.
“ Oia Yuni mana??? ” Tanya Ranie…
“Akh paling-paling kepor dibelakang!!” sahut Yusuf yang dari tadi lebih memilih diam. Ketika mendengar nama Yuni disebut. Sepertinya Yusuf bersemangat sedikit.
“Mmmmhh…masa anak Artepak kepor sech??? Timpal Ima dengan bersemangat.
“ Woooiii….wait me…!!” terdengar suara dari bawah, spontan Ranie dan yang lainnya berhenti dan melihat kebawah, rupanya suara itu milik sosok yang baru saja mereka bicarakan.
“ Wah umur mu panjang juga Yun, baru saja namamu disebut-sebut sama Yusuf tuch…” goda Ranie sambil tersenyum kearah Yusuf.
“ Mmmmhhh, mulai…balas Yusuf bergumam panjang”.
Ada air??? Tanya Wilda dengan wajah memerah.
Nech, Amin menyuguhkan air kepada Wilda yang setengah dehidrasi.
“ Mana yang lain???” Tanya Ranie kepada Yuni.
Mereka masih dibawah, ada Ratna, Ana, Yadi, dan Adi.
Owh, yach udah kita lanjut lagi yok, biar nanti kita nggak kemalaman nyampenya. Dan mereka kembali meneruskan pejalanan. Udara semakin menusuk tulang, tetapi semangat petualang dalam diri mereka masing-masing mengalahkan semuanya. Kabut mulai tampak dihadapan mereka, pepohonan yang menjulang tinggi melihatkan keperkasaannya. Terobosan cahaya matahari siang itu samar-samat terlihat karena terhalang oleh pohon-pohon besar yang ditumbuhi lumut. Dihadapan mereka terukir jalan yang berkelok dan urat-urat pohon besar. Dalam hati beribu-ribu pujian untuk sang pencipta yang begitu sempurna menciptakan apa yang terlihat dihadapan sekarang. Subhanallah…betapa kuasanya. Dengan tenang mereka melangkah, dan memasuki terowongan yang menganga dihadapan mereka. Kini hutan semakin dalam mereka susuri bebatuan besar pun memberikan semangat alam yang tak berbatas, jalan yang dilaluipun semakin terjal dan licin. Diatas kepala sudah terlihat langit yang membentang luas, keindahan jagat yang mempesona.
“ Akhirnya…kita sampe dicadas!!”  teriak Ima dengan legahnya. . .
“ Lihat. . . !” telunjuk Ranie mengarah kesebuah pemandangan yang begitu indah. . . dua gunung yang terlihat begitu indah, yach itu dia gunung Singgalang dan gunung Tandikek. Jalur pendakianya begitu menantang. Dan kota Sumbar yang membentang dibawah sana. Benar-benar indah.
Setelah sejenak menikmati keindahan yang seakan sengaja dilukiskan didinding kanvas dihadapan mereka oleh pelukis yang ingin memamerkan lukisan indahnya dan tiada seorang senimanpun yang bisa mengalahkan keindahan itu. Kini sunset berada dalam bola mata mereka masing-masing. Merekapun menyibukkan diri masing-masing untuk segera membersihkan lokasi, mendirikan tenda, masak dan mencari sumber air. Setelah semuanya selesai, dan rombongan yang lain pun sudah menampakkan diri mereka. Sekarang sama-sama mereka menyantapi hidangan ala pecinta alam, menjelang magrib pun tiba. Setelah semuanya selesai, saat nya mereka berbincang dengan sang pemberi nikmat. Saatnya melaksanakan sholat magrib dan bersenandung dalam kalimat-kalimat terindah milikNya.
          Diatas batuan besar, malam itu angin bertiup begitu lembut, tidak terdengar sedikitpun derik dedaunan, hanya usapan lembut melintas tubuh. Pasangan mata menatap lurus kedepan dan kembali tertulis berjuta-juta pujian yang tak berbatas, gemerlap lampu berkedip seperti berjuta  kunang-kunang yang sedang menikmati malam. Hamparan kota Padang membentang dibawah sana. Puncak gunung Singgalang dan Tandikek pun dengan gagahnya memancarkan pesona yang dipantulkan cahaya rembulan malam itu yang tersenyum memberi harapan-harapan masa depan. Dan pesan-pesan alam untuk tetap berkreasi.
“ Ya Allah, terima kasih engkau telah mengizinkan aku untuk menikmati keindahan milikMu. Dan besok aku akan kembali menyaksikan kekuasaanMu dipuncak sana”. Senyuman kepuasaan tergolek ditepi bibir milik gadis yang berasal dari Teluk kuantan itu. Kini kristal bening menitik digaris wajahnya, ayah…bunda…ku titipkan salam rindu ku melalui semerbaknya udara malam ini. Bisiknya lirih penuh haru. Diraihnya ujung jilbab yang dikenakannya, berlahan Ranie menghapus jejak air yang mengalir dari matanya. Dari belakang terlihat beberapa banyangan mendekatinya.
          “ Indah yach…” suara Raja membalas suara jangkrik-jangkrik malam itu. Dibatuan besar disebelah kanan Ranie, Raja duduk dan menatap jauh kedepan sana, mungkin menikmati alam dimalam ini, dan hal itu juga dilakukan oleh Yusuf dan Amin yang berdiri didepannya. Sedangkan yang lainnya asyik menghangatkan badan di depan perapian. Sedangkan Ima, Yuni, Ana dan Wilda asyik berfose mengabadikan moment malam ini. Malampun semakin larut, saat semuanya menyelesaikan shalat isya. kini para petualang bersiap untuk memejamkan mata mereka karena fisik untuk besok harus kembali segar karena keindahan itu tidak hanya ada sebatas dicadas saja. Diatas sana masih terbentang keindahan yang lebih mempesona. Kini mereka pun terlelap dalam kesunyian dan udara yang begitu menusuk tulang. Kabut pun menutupi pemandangan. Yang bersedia bersorak hanya binatang-binatang malam yang bernyanyi mengantarkan para pendaki untuk terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka. Disubuh buta, udara yang mencengkam, begitu dingin sekali. Apalagi hujan deras yang sengaja dijatuhkan dari langit sana, dan angin yang bertiup sehingga membuat badanpun menggigil kedinginan. Setengah jam berlalu hujan kembali reda dan mereka pun keluar dari tenda, berbenah untuk kesibukan dipagi ini, menyiapkan sarapan dan kembali meneruskan perjalanan.
          “ Semuanya siap???” Tanya Raja kepada teman-temannya yang lain, Selaku leader.
          “ Sip…!!” Ayo kita jalan balas Yadi. Dan rombongan pendaki dari kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Sultan Syarif Kasim ini pun memulai langkahnya dengan kalimat Bismillah dan berdoa dalam hati masing-masing. Semoga perjalan kepuncak sana akan lancar-lancar saja. Kini mereka berjalan bersama-sama. Didepan dipimpin oleh Raja, diikuti oleh Ranie, Ima, Amin, Ratna, Yuni, Wilda, Adi, Yadi, Ana, dan Yusuf. mereka berjalan bersama-sama. Dalam perjalanan terlihat beberapa tenda yang masih berdiri dan empunya masih terlelap. Dan ada beberapa tenda yang telah ada kehidupan, dan empunya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mereka terus berjalan, kini jalanan didepan mereka telah terlihat sedikit mengerikan, yang ditanya adalah kesanggupan kaki untuk menginjaknya. Batuan cadas yang meringis sampai keujung puncak jauh diatas sana. Jalanan yang berkelok dan curam. Langkah terhenti karena kabut menghalang pemandangan mata untuk melihat jalan. Kini saling meraih tangan teman-teman yang lain. 20 menit berlalu kabutpun semakin menipis kini trek pendakian kembali terlihat terang. Dan merekapun meneruskan perjalanan hingga sampai diTugu Able. Beristirahat sejenak disana menjelang menuju puncak merpati yang sudah berdiri gagah didepan mata. Gersang tetapi kedinginan, begitulah pemandangan dan keadaan yang ada. Hanya vegetasi tertentu yang Berjaya hidup diudara sedingin ini. Walaupun badan dibungkus dengan jaket outdoor berbahan polar dingin masih terasa dikulit. Kembali berjalan setelah beristirahat sejenak. Menyusuri jalan menuju puncak, terlihat kawah yang menganga dibawah sana, ditutupi kabut tebal. Bunyi letupan kecil yang berasal dari kawah mengantarkan bau Balerang kepermungkaan. Masing-masing menutupi hidung agar tidak terlalu banyak menghirup balerang yang mengandung racun tersebut.
          “ Lihat…!” suara Ranie menyeru kegirangan, 100 langkah lagi kita nyampe puncak!! Ayo…semangat…!
          Akhirnya mereka sampai juga dipuncak dengan ketinggian 2.891 mdpl, masing-masing bersorak girang dan sujud syukur diatas puncak. Dan terlihat kawah yang menganga, jurang yang menakutkan, hamparan ladang Edelweis dibawah dibalik puncak, begitu indah. Dan puncak Garuda pun dengan gagah nya menjulang diseberang disebelah hutan larangan. Mereka seakan tidak ada puasnya, walaupun telah berada dipuncak, kepuasan itu terletak dibawah sana, yach…berada diladang Edelweis, berlari kecil menuruni puncak menuju hamparan Edelweis yang memberikan sambutan hangat selamat datang.
“ Subhanallah…” kini hidung Ranie menyatu dengan bunga abadi yang dibilang banyak orang. Wangi yang dihirupnya mengalir keseluruh tubuhnya seiring jantung yang memompa darah dan paru-paru yang mengembang dan mengatup menghirup wangi Edelweis dan menyatukan semangatnya kembali keubun-ubun.  Ratna, Yuni, Ana dan Wilda yang juga asyik mengitari gugusan Edelweis memetik bunga dan berlari kecil menikmati pemandangan indah disekeliling mereka. Raja membentangkan matras diatas tanah, berbaring dengan tangan yang dilipatnya sebagai bantal kepalanya. Dengan sebatang rokok yang dihisapnya, menikmati pemandangan dengan alanya sendiri. Sedangkan Yusuf, Adi dan Yadi berdiri menatap hamparan Edelweis yang luas. Sedangkan Ima dan Amin asyik bercengkrama sambil memetik Edelweis. Dan mereka pun tidak bosan-bosannya berfose untuk mengabadikan moment yang begitu indah ini.