Rabu, 30 November 2011

KEINDAHAN DAN PANORAMA MERAPI


Hamparan sawah yang menguning, ladang yang menghijau terlihat indah di mata gadis berdarah melayu itu. Dengan wajah yang tenang dan damai terukir senyum manis dibibirnya. Kedamaian dan kesejahteraan dirasakan dalam alunan angin yang menerpa wajah dan mengibarkan jilbab yang menutupi rambutnya. Sekarang sawah dan ladang didepan matanya, seketika berubah menjadi hutan bambu dan jalan setapak menanjak dan sekarang diinjaknya.
          “ Hati-hati Ran, terdengar suara Raja yang menyeru didepannya, saat Raja melihat kaki Ranie hampir tersangkut diurat pepohonan”.       
          “ Oia…Thank’s Ja, balas Ranie ”. Dan mereka pun kembali menyusuri jalan dan menikmati kesejukan yang mereka rasakan.
          “ Hay saudara….” Terdegar sorakan dari bawah dan seketika terlihat tiga sosok pendaki mendekati arah Ranie dan Raja. Rupa nya sosok itu adalah milik Ima, Yusuf dan Amin. Dengan nafas yang ngos-ngosan mereka langsung menyandarkan badan pada pohon besar. Ranie tersenyum melihat tingkah teman-temannya.
          “ Oke, kita istirahat sejenak, sambil menunggu rombongan yang lain, toh badan udah terasa panas nech, kalau udah dingin kita jalan lagi, ucap Ranie sambil menyeka keringat yang jatuh dari kepala dan membetulkan jilbabnya yang berantakan. Nech, minum dulu. Mereka pun bergantian meneguk air mineral yang disuguhkan oleh gadis bermata sipit itu. Kehangatan persaudaraan dirasakan disetiap singgahan yang dilalui.
          “ Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita, biar nanti cepat sampai dicadas kita langsung dirikan tenda dan bisa masak terus istirahat, rombongan yang lain kita tunggu diatas ajah, gimana???” Tanya Raja setelah melihat wajah teman-temannya yang sudah sedikit tenang dan melepas dahaga.
          “ Ayo timpal Ima yang sudah bersemangat lagi, semangat saudara…!!”
          “ Mmhhh….yela, balas Ranie memotong” yok!!!
          Mereka kembali melangkahkan kaki mengintari semak belukar, hutan, dan jurang yang ada disisi kanan dan kiri mereka.Sesekali memetik buah Arbei yang ditemui dijalan.
          “ Pak…Buk…” sapaan dari beberapa pendaki yang ditemui dijalan yang akan turun. Dan pastinya mereka sudah bermalam diatas sana dan sudah menikmati suasana dipuncak. Dan bermain diladang Edelweis, karena terlihat ditangan salah seorang pendaki yang ingin turun tergenggam beberapa tangkai bunga indah itu.
          “ Turun pak???” Tanya Raja sebagai leader dan tersenyum kearah beberapa orang pendaki tersebut.
          “ Iyach “, salah seorang menjawab. Dan membalas senyum Raja. Mereka sejenak saling bersalaman. Dan kembali meneruskan perjalanan.
          Wah. . . nggak nyangka aku bisa balik kesini, tiba-tiba suara Ima memecahkan kesunyian. Menyenangkan sekali liburan kali ini bisa menikmati keindahan alam dipuncak merapi balas Ranie yang berjalan dibelakang Raja. Dan tersenyum kearah Ima yang begitu menikmati perjalanan itu.
“ Oia Yuni mana??? ” Tanya Ranie…
“Akh paling-paling kepor dibelakang!!” sahut Yusuf yang dari tadi lebih memilih diam. Ketika mendengar nama Yuni disebut. Sepertinya Yusuf bersemangat sedikit.
“Mmmmhh…masa anak Artepak kepor sech??? Timpal Ima dengan bersemangat.
“ Woooiii….wait me…!!” terdengar suara dari bawah, spontan Ranie dan yang lainnya berhenti dan melihat kebawah, rupanya suara itu milik sosok yang baru saja mereka bicarakan.
“ Wah umur mu panjang juga Yun, baru saja namamu disebut-sebut sama Yusuf tuch…” goda Ranie sambil tersenyum kearah Yusuf.
“ Mmmmhhh, mulai…balas Yusuf bergumam panjang”.
Ada air??? Tanya Wilda dengan wajah memerah.
Nech, Amin menyuguhkan air kepada Wilda yang setengah dehidrasi.
“ Mana yang lain???” Tanya Ranie kepada Yuni.
Mereka masih dibawah, ada Ratna, Ana, Yadi, dan Adi.
Owh, yach udah kita lanjut lagi yok, biar nanti kita nggak kemalaman nyampenya. Dan mereka kembali meneruskan pejalanan. Udara semakin menusuk tulang, tetapi semangat petualang dalam diri mereka masing-masing mengalahkan semuanya. Kabut mulai tampak dihadapan mereka, pepohonan yang menjulang tinggi melihatkan keperkasaannya. Terobosan cahaya matahari siang itu samar-samat terlihat karena terhalang oleh pohon-pohon besar yang ditumbuhi lumut. Dihadapan mereka terukir jalan yang berkelok dan urat-urat pohon besar. Dalam hati beribu-ribu pujian untuk sang pencipta yang begitu sempurna menciptakan apa yang terlihat dihadapan sekarang. Subhanallah…betapa kuasanya. Dengan tenang mereka melangkah, dan memasuki terowongan yang menganga dihadapan mereka. Kini hutan semakin dalam mereka susuri bebatuan besar pun memberikan semangat alam yang tak berbatas, jalan yang dilaluipun semakin terjal dan licin. Diatas kepala sudah terlihat langit yang membentang luas, keindahan jagat yang mempesona.
“ Akhirnya…kita sampe dicadas!!”  teriak Ima dengan legahnya. . .
“ Lihat. . . !” telunjuk Ranie mengarah kesebuah pemandangan yang begitu indah. . . dua gunung yang terlihat begitu indah, yach itu dia gunung Singgalang dan gunung Tandikek. Jalur pendakianya begitu menantang. Dan kota Sumbar yang membentang dibawah sana. Benar-benar indah.
Setelah sejenak menikmati keindahan yang seakan sengaja dilukiskan didinding kanvas dihadapan mereka oleh pelukis yang ingin memamerkan lukisan indahnya dan tiada seorang senimanpun yang bisa mengalahkan keindahan itu. Kini sunset berada dalam bola mata mereka masing-masing. Merekapun menyibukkan diri masing-masing untuk segera membersihkan lokasi, mendirikan tenda, masak dan mencari sumber air. Setelah semuanya selesai, dan rombongan yang lain pun sudah menampakkan diri mereka. Sekarang sama-sama mereka menyantapi hidangan ala pecinta alam, menjelang magrib pun tiba. Setelah semuanya selesai, saat nya mereka berbincang dengan sang pemberi nikmat. Saatnya melaksanakan sholat magrib dan bersenandung dalam kalimat-kalimat terindah milikNya.
          Diatas batuan besar, malam itu angin bertiup begitu lembut, tidak terdengar sedikitpun derik dedaunan, hanya usapan lembut melintas tubuh. Pasangan mata menatap lurus kedepan dan kembali tertulis berjuta-juta pujian yang tak berbatas, gemerlap lampu berkedip seperti berjuta  kunang-kunang yang sedang menikmati malam. Hamparan kota Padang membentang dibawah sana. Puncak gunung Singgalang dan Tandikek pun dengan gagahnya memancarkan pesona yang dipantulkan cahaya rembulan malam itu yang tersenyum memberi harapan-harapan masa depan. Dan pesan-pesan alam untuk tetap berkreasi.
“ Ya Allah, terima kasih engkau telah mengizinkan aku untuk menikmati keindahan milikMu. Dan besok aku akan kembali menyaksikan kekuasaanMu dipuncak sana”. Senyuman kepuasaan tergolek ditepi bibir milik gadis yang berasal dari Teluk kuantan itu. Kini kristal bening menitik digaris wajahnya, ayah…bunda…ku titipkan salam rindu ku melalui semerbaknya udara malam ini. Bisiknya lirih penuh haru. Diraihnya ujung jilbab yang dikenakannya, berlahan Ranie menghapus jejak air yang mengalir dari matanya. Dari belakang terlihat beberapa banyangan mendekatinya.
          “ Indah yach…” suara Raja membalas suara jangkrik-jangkrik malam itu. Dibatuan besar disebelah kanan Ranie, Raja duduk dan menatap jauh kedepan sana, mungkin menikmati alam dimalam ini, dan hal itu juga dilakukan oleh Yusuf dan Amin yang berdiri didepannya. Sedangkan yang lainnya asyik menghangatkan badan di depan perapian. Sedangkan Ima, Yuni, Ana dan Wilda asyik berfose mengabadikan moment malam ini. Malampun semakin larut, saat semuanya menyelesaikan shalat isya. kini para petualang bersiap untuk memejamkan mata mereka karena fisik untuk besok harus kembali segar karena keindahan itu tidak hanya ada sebatas dicadas saja. Diatas sana masih terbentang keindahan yang lebih mempesona. Kini mereka pun terlelap dalam kesunyian dan udara yang begitu menusuk tulang. Kabut pun menutupi pemandangan. Yang bersedia bersorak hanya binatang-binatang malam yang bernyanyi mengantarkan para pendaki untuk terlelap dalam mimpi-mimpi indah mereka. Disubuh buta, udara yang mencengkam, begitu dingin sekali. Apalagi hujan deras yang sengaja dijatuhkan dari langit sana, dan angin yang bertiup sehingga membuat badanpun menggigil kedinginan. Setengah jam berlalu hujan kembali reda dan mereka pun keluar dari tenda, berbenah untuk kesibukan dipagi ini, menyiapkan sarapan dan kembali meneruskan perjalanan.
          “ Semuanya siap???” Tanya Raja kepada teman-temannya yang lain, Selaku leader.
          “ Sip…!!” Ayo kita jalan balas Yadi. Dan rombongan pendaki dari kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Sultan Syarif Kasim ini pun memulai langkahnya dengan kalimat Bismillah dan berdoa dalam hati masing-masing. Semoga perjalan kepuncak sana akan lancar-lancar saja. Kini mereka berjalan bersama-sama. Didepan dipimpin oleh Raja, diikuti oleh Ranie, Ima, Amin, Ratna, Yuni, Wilda, Adi, Yadi, Ana, dan Yusuf. mereka berjalan bersama-sama. Dalam perjalanan terlihat beberapa tenda yang masih berdiri dan empunya masih terlelap. Dan ada beberapa tenda yang telah ada kehidupan, dan empunya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mereka terus berjalan, kini jalanan didepan mereka telah terlihat sedikit mengerikan, yang ditanya adalah kesanggupan kaki untuk menginjaknya. Batuan cadas yang meringis sampai keujung puncak jauh diatas sana. Jalanan yang berkelok dan curam. Langkah terhenti karena kabut menghalang pemandangan mata untuk melihat jalan. Kini saling meraih tangan teman-teman yang lain. 20 menit berlalu kabutpun semakin menipis kini trek pendakian kembali terlihat terang. Dan merekapun meneruskan perjalanan hingga sampai diTugu Able. Beristirahat sejenak disana menjelang menuju puncak merpati yang sudah berdiri gagah didepan mata. Gersang tetapi kedinginan, begitulah pemandangan dan keadaan yang ada. Hanya vegetasi tertentu yang Berjaya hidup diudara sedingin ini. Walaupun badan dibungkus dengan jaket outdoor berbahan polar dingin masih terasa dikulit. Kembali berjalan setelah beristirahat sejenak. Menyusuri jalan menuju puncak, terlihat kawah yang menganga dibawah sana, ditutupi kabut tebal. Bunyi letupan kecil yang berasal dari kawah mengantarkan bau Balerang kepermungkaan. Masing-masing menutupi hidung agar tidak terlalu banyak menghirup balerang yang mengandung racun tersebut.
          “ Lihat…!” suara Ranie menyeru kegirangan, 100 langkah lagi kita nyampe puncak!! Ayo…semangat…!
          Akhirnya mereka sampai juga dipuncak dengan ketinggian 2.891 mdpl, masing-masing bersorak girang dan sujud syukur diatas puncak. Dan terlihat kawah yang menganga, jurang yang menakutkan, hamparan ladang Edelweis dibawah dibalik puncak, begitu indah. Dan puncak Garuda pun dengan gagah nya menjulang diseberang disebelah hutan larangan. Mereka seakan tidak ada puasnya, walaupun telah berada dipuncak, kepuasan itu terletak dibawah sana, yach…berada diladang Edelweis, berlari kecil menuruni puncak menuju hamparan Edelweis yang memberikan sambutan hangat selamat datang.
“ Subhanallah…” kini hidung Ranie menyatu dengan bunga abadi yang dibilang banyak orang. Wangi yang dihirupnya mengalir keseluruh tubuhnya seiring jantung yang memompa darah dan paru-paru yang mengembang dan mengatup menghirup wangi Edelweis dan menyatukan semangatnya kembali keubun-ubun.  Ratna, Yuni, Ana dan Wilda yang juga asyik mengitari gugusan Edelweis memetik bunga dan berlari kecil menikmati pemandangan indah disekeliling mereka. Raja membentangkan matras diatas tanah, berbaring dengan tangan yang dilipatnya sebagai bantal kepalanya. Dengan sebatang rokok yang dihisapnya, menikmati pemandangan dengan alanya sendiri. Sedangkan Yusuf, Adi dan Yadi berdiri menatap hamparan Edelweis yang luas. Sedangkan Ima dan Amin asyik bercengkrama sambil memetik Edelweis. Dan mereka pun tidak bosan-bosannya berfose untuk mengabadikan moment yang begitu indah ini.      

1 komentar:

  1. dibuat saat pendakian perdama ku ke gunung marapi disumbar. .. .. . . .

    BalasHapus